Mantan Pemain Sebut Barcelona sebagai Klub Badut

Sepak terjang Barcelona ternyata mendapat kritik dari mantan pemain. Adalah Christophe Dugarry yang terang-terangan melancarkan kritikan pada klub yang pernah dibelanya beberapa musim lalu. Sosok asal Prancis itu menyebut tim tersebut sebagai klub badut.

Dugarry mengatakan hal tersebut menyusul berbagai kebijakan transfer Barcelona yang dinilai tak berhasil. Setelah mendatangkan pemain dengan harga mahal, Barcelona lantas menjualnya lagi. Dua pemain disebut sebagai contoh yakni Philippe Coutinho dan Ousmande Dembele.

“Itu adalah klub badut. Segalanya dilakukan secara terbalik. Sebagai contoh, mereka membeli Coutinho dan Dembele dan kemudian menjualnya. Saya dapat kesan kalau tidak ada proyek di klub. Satu-satunya prioritas adalah presidennya terpilih lagi,” ungkap Dugarry.

Lebih lanjut, Dugarry menyoroti regenerasi di klub tersebut. Hingga kini Barcelona belum mendapatkan sosok penerus Andres Iniesta dan Xavi Hernandez.

“Kepergian Xavi dan Iniesta membuat mereka menghabiskan banyak uang secara sia-sia. Sampai sekarang, mereka belum menemukan gaya pemain atau kualitas yang seperti keduanya,” sambung Dugarry.

Belum lama ini Barcelona harus menerima pil pahit setelah tersisih dari Copa del Rey. Blaugrana kalah bersaing dengan Athletic Bilbao di babak perempat final pada tengah pekan ini. Barcelona kalah dengan skor tipis, 0-1.

Pelatih Barcelona mengaku kecewa dengan hasil tersebut. Mereka mampu menguasai pertandingan namun tak mampu memanfaatkan situasi tersebut untuk mencetak gol.

Lebih lanjut pelatih asal Spanyol itu mengatakan laga berjalan sesuai harapan. Meski mendominasi pertandingan terutama di babak kedua, Barcelona tak mampu mencetak gol.

“Pertandingannya berjalan seperti yang kami inginkan, kami mendominasi babak kedua, tapi hukumannya tidak bisa mencetak gol dengan salah satu dari peluang-peluang itu,” sambungnya.

Sosok yang menggantikan posisi Ernesto Valverde itu mengatakan situasi yang membuat mereka sedih adalah gol kemenangan lawan justru terjadi di penghujung laga. Hal ini membuat mereka tak memiliki kesempatan untuk menyamakan kedudukan.

“Kami harus menyelamati tim lawan karena mereka menjaringkan bola ke gawang, yang tidak bisa kami lakukan. Sedihnya, gol itu mendatangi kami di waktu di mana kami tidak memiliki kesempatan untuk membuat reaksi,” lanjut Setien.

Meski menguasai pertandingan dan memiliki banyak peluang, Barcelona terbukti gagal mencetak satu gol pun. Sementara itu di sisi berbeda ada tim yang memetik kemenangan dengan peluang yang minim. Menurutnya, hal-hal seperti ini disebabkan juga oleh faktor-faktor di luar kendali.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *